Belajar Fikih Media Sosial

 

Jakarta_Inmas. Suasana pelaksanaan Rapat Kerja Masional (Rakernas) Kememterian Agama RI Th. 2019 cukup menarik perhatian seluruh peserta, pasalnya, selain mengikuti rangkaian acara sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, setiap peserta mendapatkan buku gratis tentang “Fikih Media Sosial”.

Selain mendapatkan buku tersebut secara gratis, peserta Rakernas juga mendapatkan buku tulisan singkat dari Menteri Agama RI yang berisi tentang “Moderasi Untuk Kebersamaan Umat” dengan memaknai Rakernas Kemenag tahun 2019.

Kepala Kantor Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat, Drs.H. Ridwansyah, M.Si yang secra aktif mengikuti kegiatan Rakernas tersebut membenarkan bahwa Seluruh Kakanwil Kemenag se-Indonesia diberikan buku Fikih Media Sosial yang ditulis oleh Faris Khoirul Anam.

“Alhamdulillah kami juga mendapatkan buku ini, sebagai panduan dalam bermedsos agar terarah dan membawa efek positif kepada masyarakat” jelas Ridwansyah saat menerima buku Fikih Media Sosial Karya Faris Khoirul Anamtersebut.

Selanjutnya Ridwansyah menuturkan bahwa aktif di Media Sosial (Medsos) terkadang membuat orang lupa diri, Alpa bahwa jari jemari bisa mengantarkan dirinyake neraka.Sebanya karena melakukan hal-hal yang diharamkan dalam bermedia sosial.

Selanjutnya ia mengatakan di Indonesia, Umat Islam tentu pengguna terbesar medsos. Sayangnya banyak orang entah karena alpa atau tidak tahu justru melakukan aktifitas bermedsos yamg bertentangan dengan agama. Akibatnya Medsosterasa jadi ajang menumpuk dosa.

“Buku ini memaparkan tentangketentuan Syari’at (fikih)terkait komunikasi informasi melalui media sosial. Sebuah panduan agar umat Islam bermedsos dengan cerdas dan beradab agar sarana komunikasi dgital itu menjadi berkah menebar maslahah” pungkasnya.

Pada halaman pertama buku Fikih Media Sosial terdapat Sambutan tertulis Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang menyatakan bahwa kita perlu melakukan evaluasi diri. Peran tehnologi dan sarana komunikasi berupa media sosialtelah kita gunakan untuk apa saja selama ini. Apakah sebagai sumur untuk menimba ilmu pengetahuan dan informasi positif ataukah justeru menjadikannya sebagai ladang penyebaran kabar bohong, fitnah, hujatan dan sejenisnya?

Rendahnya integritas dan lemahnya pertahanan diri dalam menyikpi informasi, seorang bisa saja mengamini setiap informasi tanpa verifikasi. Lalu tampa pikirpanjang langsung menyebarkannya seolah semua orang membutuhkannya.

Melalui sambutan tersebut Menag menjelaskan bahwa terkadang informasi seperti itu dikirim bertubi-tubikesejawatnya tanpa peduli dampaknya, padaha hal demikian bukan saja menghancurkan persahabatan tapi juga memundurkan peradaban.

Dizaman digital ini persaingan global makin bersifat total, jika inigin jadi bangsa handaltiada pilihan kecuali meningkatkan kualitas diri secara optimal. Jadikan airbah informasi sebagai modal produktif menuju level lebih tinggi. Manfaatkan Jaringan sosial untuk bersinergi meningkatkan prokdutifoitas dan mencapai kesejahteraan bersama.

Selanjutnya sambutan dalam buku tersebut Menag menghimbau agar kita jadikan media sosial sebagai ladang kebajikan. Tanamkan semangat untuk berbagi ilmu, kabar inspiratif dan konten positif lainnya. Lalu kita etik buahnya diakhirat nanti berupa dan keridhaan Allah SWT.

Di akhir Akhir sambutan tertulisnya Menag mengapresiasi hasil karya Karangan Faris Khoirul Anam yang telah menyusun buku Fikih Media Sosial. Yang telah berusaha menggali ajaran agama dan pandanga ulama untuk dituliskan sebagai dasar acuan dalam bermedsos di dunia informasi diera digital yang menggelobal ini. Semoga buku ini menjadi panduan yang baik bagi warga internet menuju peradaban maya yang luhur dan bermartabat. (Ir_One)

Gambar mungkin berisi: 5 orang, orang duduk
Gambar mungkin berisi: 6 orang, orang berdiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *